ISLAMABAD – Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran pada 11 April 2023 berakhir tanpa mencapai kesepakatan permanen, meskipun kedua pihak telah berdiskusi selama 21 jam. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, mengungkapkan bahwa tawaran akhir telah diajukan, namun Iran tidak menerima. Ini menandakan adanya ketegangan yang belum teratasi antara kedua negara.
Menurut Vance, ada ‘garis merah’ yang telah ditetapkan oleh Amerika Serikat, meskipun ia tidak menjelaskan rinciannya. Sebelum pertemuan tersebut, kedua pihak telah mengeluarkan pernyataan publik yang menunjukkan bahwa mereka masih jauh dari kesepakatan pada sejumlah isu penting.
Tiga Isu Kritis dalam Negosiasi
Menurut dua pejabat Iran yang akrab dengan diskusi tersebut, ada tiga isu utama yang menjadi penghalang dalam negosiasi: pembukaan kembali Selat Hormuz untuk semua lalu lintas maritim, nasib hampir 900 pon uranium yang sangat diperkaya, dan permintaan Iran untuk pencairan sekitar US$27 miliar (sekitar Rp 400 triliun) dari pendapatan yang dibekukan di luar negeri.
Amerika Serikat meminta agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak. Namun, Iran menolak untuk memberikan kendali atas titik kritis ini, menyatakan bahwa mereka hanya akan melakukannya setelah adanya kesepakatan damai yang final.
Permintaan Reparasi dan Pendapatan yang Diblokir
Iran juga menuntut reparasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan udara selama enam minggu terakhir dan meminta agar pendapatan minyak yang dibekukan di negara-negara seperti Irak, Luksemburg, Bahrain, Jepang, Qatar, Turki, dan Jerman segera dicairkan untuk keperluan rekonstruksi. Namun, permintaan ini ditolak oleh pihak Amerika.
Satu lagi isu yang menjadi perdebatan adalah permintaan Presiden Donald Trump yang menginginkan Iran menyerahkan atau menjual seluruh persediaan uranium yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir. Iran telah mengajukan proposal balasan, namun kedua pihak tidak berhasil mencapai kompromi.
Perkembangan Positif di Tengah Ketegangan
Meskipun pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan, fakta bahwa pertemuan tersebut berlangsung menjadi indikator kemajuan. Hanya enam minggu sebelumnya, AS dan Israel telah melancarkan serangan udara yang mengakibatkan tewasnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang membuat prospek pertemuan tingkat tinggi antara pejabat Iran dan AS terlihat sangat tidak mungkin.
Namun, Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan seorang komandan militer berpengaruh, memimpin delegasi Iran dan melakukan pertemuan tatap muka dengan Vance. Kedua pria tersebut berjabat tangan, dan diskusi tersebut digambarkan berlangsung dengan suasana yang hangat dan tenang.
Dr. Vali Nasr, seorang profesor dan ahli Iran di Universitas Johns Hopkins, menilai bahwa ini adalah negosiasi langsung yang paling serius dan berkelanjutan antara AS dan Iran. Ia berpendapat bahwa ini mencerminkan niat kedua pihak untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama.
Kesimpulan
Negosiasi antara AS dan Iran menunjukkan kompleksitas hubungan internasional dan tantangan dalam mencapai kesepakatan. Tiga isu kunci yang terungkap menjadi bukti bahwa dialog masih mungkin dilakukan, meskipun banyak rintangan yang harus dilalui. Bagi Indonesia, situasi ini juga penting untuk dipantau, mengingat dampaknya terhadap stabilitas regional dan harga minyak global.

