LONDON – Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Presiden AS, Donald Trump, mengadakan percakapan pada 8 Maret 2025 terkait perang yang terjadi di Timur Tengah. Pembicaraan ini berlangsung setelah Starmer menerima kritik keras dari Trump terkait sikap awalnya yang menolak keterlibatan Inggris dalam konflik AS-Israel melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu.
Menurut pernyataan dari kantor Starmer, kedua pemimpin membahas situasi terkini di Timur Tengah serta kerja sama militer antara Inggris dan AS melalui penggunaan pangkalan RAF untuk mendukung pertahanan kolektif mitra di kawasan tersebut. Starmer juga menyampaikan belasungkawa kepada Trump dan rakyat Amerika atas kematian enam tentara AS.
“Mereka berharap dapat berbicara kembali dalam waktu dekat,” tambah pernyataan tersebut. Namun, tidak ada keterangan apakah mereka membahas kerenggangan hubungan yang terlihat dalam seminggu terakhir ini.
Hubungan yang Komplikated
Starmer telah berusaha keras untuk membangun hubungan yang hangat dengan Trump, yang dikenal sebagai pemimpin yang tidak terduga, dan bahkan diberikan kunjungan kenegaraan kedua yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2025. Namun, ketegangan muncul ketika Starmer menolak permintaan Trump untuk menggunakan pangkalan Inggris dalam serangan awal AS terhadap Iran.
Akhirnya, Starmer setuju untuk membolehkan dua pangkalan militer Inggris digunakan untuk tujuan defensif yang “spesifik dan terbatas.” Pada 7 Maret, pembom AS mulai beroperasi di lokasi Fairford di Gloucestershire, Inggris barat daya, serta pangkalan Diego Garcia di Pulau Chagos di Samudera Hindia.
Tanggapan Trump dan Perubahan Sikap Starmer
Pada minggu lalu, Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap Inggris dan mencemooh Starmer dengan mengatakan, “ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi.” Dalam sebuah unggahan di media sosial pada 7 Maret, ia menyebut Inggris sebagai “sekutu hebat kami yang dulu” dan menuduh Starmer berusaha untuk “ikut berperang setelah kami sudah menang!”
Starmer mempertahankan posisinya dengan menegaskan bahwa tindakan Inggris “harus selalu memiliki dasar hukum dan rencana yang telah dipikirkan dengan matang.” Ia berargumen bahwa serangan balasan Iran terhadap sekutu dan kepentingan Inggris di Timur Tengah membenarkan perubahan sikapnya dalam menghadapi konflik ini.
Dampak bagi Indonesia
Perkembangan terbaru ini berpotensi berdampak pada Indonesia, mengingat posisi strategis negara kita dalam hubungan internasional. Ketegangan di Timur Tengah seringkali memberikan dampak pada stabilitas global, termasuk keamanan energi dan hubungan dagang. Apabila konflik ini berkepanjangan, Indonesia sebagai negara pengimpor energi mungkin akan merasakan efeknya, baik dari sisi ekonomi maupun politik luar negeri.
Masyarakat Indonesia perlu memperhatikan berita-berita internasional dan bagaimana perkembangan ini dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri Indonesia, serta dampaknya terhadap keamanan nasional.
Kesimpulan
Pembicaraan antara Keir Starmer dan Donald Trump mengenai perang di Timur Tengah menunjukkan betapa kompleksnya dinamika politik global saat ini. Hubungan antara Inggris dan AS yang sebelumnya hangat kini menghadapi tantangan, dan dampak dari konflik ini bisa terasa hingga ke Indonesia. Sebagai negara yang terhubung dengan dinamika global, Indonesia harus tetap waspada terhadap perubahan yang terjadi dan siap untuk beradaptasi dalam merespons situasi yang berkembang.



