Warga Lebanon marah terhadap Hezbollah dan dampak serangan Israel
Berita

Kemarahan Warga Lebanon Terhadap Hezbollah Usai Serangan Israel

Pada tanggal 11 Maret, serangan udara Israel mengguncang lingkungan di Beirut, menyebabkan kemarahan warga terhadap Israel dan lebih jauh lagi, terhadap Hezbollah. Banyak warga Lebanon menyalahkan kelompok bersenjata ini karena telah menyeret negara mereka ke dalam konflik yang lebih luas di Timur Tengah.

Pada 28 Februari, serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, memicu serangkaian pembalasan yang melibatkan Hezbollah. Dalam keadaan yang sudah melemah akibat perang, Hezbollah memilih untuk menyerang Israel sebagai dukungan kepada Iran, yang semakin mengakibatkan siklus baru serangan, kematian, dan pengungsian massal di Lebanon.

Randa Harb, seorang wanita lanjut usia yang menjalankan kios sayur dan buah di kawasan Aisha Bakkar, menekankan, “Hezbollah harus menyerahkan senjatanya kepada negara, sudah cukup!” Pernyataan ini mencerminkan rasa frustrasi yang mendalam di kalangan penduduk setempat. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan itu melukai empat orang dan menyebabkan kepanikan di seluruh ibu kota.

Seorang wanita yang enggan menyebutkan namanya menyatakan, “Saudara saya terluka, dan saya menuduh Hezbollah memaksakan ‘satu perang terlalu banyak’ kepada kami.” Ini menunjukkan bahwa banyak warga Lebanon merasa terjebak dalam konflik yang tidak mereka inginkan.

Sejarah Konflik dan Ketidakpuasan

Lebanon telah lama terjebak dalam berbagai konflik, dengan perang saudara yang berakhir pada tahun 1990. Namun, Hezbollah tetap menolak untuk menyerahkan senjatanya meskipun perdamaian telah kembali. Dalam beberapa dekade terakhir, kelompok ini diketahui memiliki persenjataan yang lebih kuat dibandingkan angkatan bersenjata Lebanon dan telah berperang dengan Israel berkali-kali, dengan dampak yang sangat merugikan.

Konflik terbaru seharusnya berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 2024, tetapi gencatan senjata tersebut tetap rapuh. Israel tetap melanjutkan serangannya sementara tentara Lebanon berusaha melucuti senjata Hezbollah sesuai dengan ketentuan gencatan senjata. Amal Hisham, seorang wanita berusia 46 tahun, yang sedang memeriksa kerusakan di apartemen sepupunya, berteriak, “Saya tidak peduli pada Hezbollah!” Dia merasa bahwa semua pihak hanya saling membunuh.

Dampak Sosial dan Ketidakpuasan di Masyarakat

Kondisi di Lebanon sangat terpecah secara sektarian, dengan Hezbollah yang berakar dari komunitas Muslim Syiah, sementara banyak daerah, termasuk Aisha Bakkar, mayoritas dihuni oleh Muslim Sunni. Keberadaan Hezbollah dan afiliasi seperti Hamas sangat mengganggu warga setempat.

Aziza, seorang wanita yang menampung keluarga pengungsi, mengungkapkan kekhawatirannya tentang arus besar pengungsi dari pinggiran selatan Beirut, yang berada di bawah kendali Hezbollah dan menjadi sasaran serangan Israel. “Kami datang untuk menyambut mereka… mereka menembaki putra saya di kaki setelah dia mengeluh tentang pengibaran bendera Hezbollah,” katanya. Ini menyoroti bagaimana konflik ini berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga.

Di sisi lain Beirut yang mayoritas Kristen, seorang pemilik toko kelontong berusia 68 tahun juga menyatakan penyesalan atas keputusan Hezbollah untuk terjun ke dalam pertempuran. “Hezbollah membuat keputusan tanpa mempertimbangkan negara atau bahkan basis dukungannya,” keluhnya. “Ini adalah pertempuran yang tidak ada gunanya… apa manfaatnya?”

Kesimpulan

Ketidakpuasan dan kemarahan warga Lebanon terhadap Hezbollah mencerminkan kompleksitas konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut. Banyak yang merasa bahwa mereka tidak seharusnya terjebak dalam konflik yang dipicu oleh kekuatan eksternal. Dengan situasi yang semakin memburuk, penting bagi Lebanon untuk menemukan jalan menuju perdamaian dan stabilitas tanpa keterlibatan dalam perang yang merugikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *