LONDON/PARIS – Sekitar 40 negara pada 2 April 2023 menggelar pertemuan untuk membahas tindakan bersama guna membuka Selat Hormuz dan menghentikan Iran yang dianggap “menahan ekonomi global sebagai sandera”. Pernyataan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, setelah Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa penyelesaian masalah tersebut menjadi tanggung jawab negara-negara yang bergantung pada jalur air tersebut.
Dalam pernyataan pembukaannya yang disiarkan ke media, Cooper menegaskan bahwa ketidakpastian akibat blokade Iran telah berdampak pada rumah tangga dan bisnis di seluruh dunia. “Kami telah melihat Iran mengalihkan jalur pelayaran internasional untuk menahan ekonomi global,” ungkapnya saat memimpin pertemuan virtual yang dihadiri oleh negara-negara seperti Prancis, Jerman, Kanada, Uni Emirat Arab, dan India.
Pertemuan ini berlangsung setelah Trump menyatakan pada malam 1 April bahwa Selat Hormuz dapat dibuka secara “alami” dan menjadi tanggung jawab negara-negara pengguna untuk memastikan aksesibilitasnya. Pejabat Eropa menyatakan bahwa pertemuan awal ini berfokus pada negara-negara yang bersedia bergabung dalam koalisi yang diusulkan, serta opsi diplomatik dan ekonomi untuk membujuk Iran membuka Selat Hormuz.
Dampak Blokade Terhadap Ekonomi Global
Meskipun pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan konkret, terdapat kesepakatan di antara peserta bahwa Iran tidak seharusnya mengenakan biaya transit pada kapal yang melintasi jalur tersebut dan semua negara berhak menggunakan jalur tersebut secara bebas. Dengan blokade ini, Iran telah secara efektif menutup jalur penting yang menyuplai sekitar satu perlima dari total konsumsi minyak dunia, sehingga pembukaan kembali jalur tersebut menjadi prioritas bagi banyak negara, terutama saat harga energi melambung tinggi.
Negara-negara Eropa awalnya menolak untuk memenuhi permintaan Trump agar mengirim angkatan laut mereka ke kawasan tersebut, karena khawatir terlibat dalam konflik. Namun, meningkatnya biaya energi yang berdampak pada ekonomi global telah mendorong mereka untuk membentuk koalisi demi melindungi kepentingan masing-masing.
Diplomat Eropa mengungkapkan bahwa pembentukan koalisi ini masih dalam tahap awal, dengan Inggris dan Prancis sebagai pemimpin. Amerika Serikat tidak terlibat langsung dalam diskusi ini. Pejabat yang hadir mengatakan pertemuan awal ini mengedepankan negara-negara yang siap berpartisipasi dan strategi yang mungkin untuk membujuk Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.
Langkah-Langkah Selanjutnya
Juru bicara Angkatan Bersenjata Prancis, Guillaume Vernet, mengatakan dalam konferensi pers pada 2 April bahwa proses ini akan dilakukan secara bertahap dan tidak dapat dilakukan sebelum permusuhan berakhir. Fokus pembicaraan adalah bagaimana memastikan pemilik kapal merasa yakin untuk melanjutkan perjalanan melalui wilayah tersebut serta menurunkan premi asuransi.
Akhirnya, akan ada kebutuhan untuk berkoordinasi dengan Iran guna memastikan adanya jaminan keamanan bagi kapal-kapal yang melintas. Namun, hal ini tampaknya belum mungkin dalam waktu dekat. Pembicaraan juga telah dimulai mengenai aset militer yang dapat disediakan untuk mendukung misi ini.
“Kami perlu mengumpulkan sejumlah kapal yang cukup dan memiliki kemampuan koordinasi di udara dan di laut, serta kemampuan berbagi intelijen,” ungkap Vernet.
Trump, dalam pernyataannya, meminta negara-negara yang menggunakan Selat Hormuz untuk “membangun keberanian” dan “mengambil alih” jalur tersebut. Namun, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dalam pernyataannya di Korea Selatan pada 2 April menanggapi bahwa opsi militer untuk merebut Selat adalah pilihan yang “tidak realistis”.
Kesimpulan
Situasi di Selat Hormuz menunjukkan kompleksitas geopolitik yang melibatkan banyak negara dan dampak yang luas terhadap ekonomi global. Pembentukan koalisi untuk membuka kembali jalur vital ini menjadi tantangan serius yang harus dihadapi oleh komunitas internasional, terutama dalam konteks ketergantungan energi global.



