Pada 18 April, pemimpin Hezbollah, Naim Kassem, mengumumkan bahwa kelompok militan yang didukung Iran tersebut “sepenuhnya terbuka” untuk berkooperasi dengan pemerintah Lebanon dalam membahas kemungkinan gencatan senjata dengan Israel. Pernyataan ini muncul saat perjanjian gencatan senjata selama 10 hari antara Hezbollah dan Israel tampak berjalan dengan baik, meskipun Kassem juga menetapkan beberapa syarat yang cukup berat untuk melanjutkan perdamaian.
Kondisi Gencatan Senjata Hezbollah
Dalam pernyataannya, Kassem merayakan perjanjian gencatan senjata, namun menekankan bahwa Hezbollah tetap akan mempersiapkan pasukannya. Ia menyampaikan lima syarat untuk memperpanjang perdamaian dengan Israel, yang banyak mencerminkan tuntutan jangka panjang kelompok tersebut yang sulit untuk diimplementasikan. Beberapa syarat tersebut antara lain:
- Penghentian permanen serangan Israel terhadap target-target Lebanon.
- Penarikan total pasukan Israel dari Lebanon.
Permintaan ini dinilai sangat menantang. Pada bulan Maret, Hezbollah menyerang Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Iran, dan Israel merespons dengan meluncurkan invasi darat yang luas ke selatan Lebanon, yang merupakan basis kekuatan Hezbollah. Israel sendiri telah menunjukkan niat untuk menguasai sebagian besar wilayah tersebut bahkan setelah konflik saat ini berakhir.
Reaksi Internasional
Sementara itu, pada 16 April, Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa dalam konteks gencatan senjata, Lebanon dan Israel telah menegaskan kembali posisi bahwa Hezbollah, yang juga merupakan partai politik di Lebanon, tidak seharusnya membawa senjata. Namun, mendisarmasi Hezbollah merupakan tujuan yang sulit dicapai, mengingat pemerintah Lebanon tidak memiliki kontrol langsung atas kelompok militan ini, yang diperkirakan jauh lebih kuat dibandingkan angkatan bersenjata Lebanon.
Sejarah Gencatan Senjata
Gencatan senjata yang dipimpin AS sebelumnya setelah konflik antara Israel dan Hezbollah pada tahun 2024 seharusnya membuat Israel menarik diri dari Lebanon, sementara Hezbollah seharusnya melakukan disarmament. Namun, keduanya tidak pernah terwujud.
Kassem menegaskan, “Sebuah gencatan senjata tidak dapat bersifat sepihak; harus dipatuhi oleh kedua belah pihak.” Ia juga menambahkan bahwa mereka tidak akan menerima pengulangan 15 bulan kesabaran di hadapan agresi Israel sambil menunggu diplomasi yang tidak membuahkan hasil.
Dampak Terhadap Populasi Lebanon
Menurut otoritas Lebanon, sekitar 2.300 orang Lebanon telah kehilangan nyawa dalam perang terbaru ini. Sementara itu, setidaknya 13 tentara Israel dan dua warga sipil juga dilaporkan meninggal, menurut pihak berwenang Israel. Kassem menekankan bahwa perdamaian akan bergantung pada kembalinya ratusan ribu warga Lebanon yang terpaksa mengungsi akibat konflik ini. Namun, keberadaan terus-menerus Israel di Lebanon dapat memperpanjang masa pengungsian mereka.
Kesimpulan
Kesiapan Hezbollah untuk berkooperasi dengan pemerintah Lebanon dalam gencatan senjata dengan Israel menunjukkan adanya harapan, meskipun syarat-syarat yang diajukan Kassem terlihat sangat berat dan kompleks. Keberlanjutan gencatan senjata ini sangat bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk menghentikan siklus kekerasan yang telah berlangsung lama.



